Kamis, 23 Desember 2010

Bjornstjerne Martinus Bjornson, Peraih Nobel Sastra Tahun 1903



Bjornstjerne Martinus Bjornson dilahirkan di Norwegia tahun 1832, masa kecil sekolahnya dihabiskan di Christiana (Oslo). Sejak awal ia telah mengabdi pada perkembangan teater Norwegia, ia menulis dramatisasi puisi namun tak diterbitkan. Minatnya yang besar pada sastra tatkala sekolah, membuat dirinya menjadi kritikus dan menjadi kritisi sastra untuk Morgenbladet pada tahun 1854 selain tulisannya lainnya, dan cerita pendeknya mengiasi koran-koran masa itu.

Tahun 1857 merupakan tahun yang sangat bermakna dalam perjalanan awal karir Bjornson, ia merampungkan drama sejarah yang berjudul Mellem Slagene ( Seputar Pertempuran ) dan sekaligus menjadi Stage Manajer pada Norwegian Theathre di Bergen.

Namun beberapa tahun kemudian ia aktif dalam dunia politik nasional. Kendati disibukan rutinitas politik, ia tetap mempertahankan proses kreatifnya dengan membuat tulisan fiksinya tentang tragedi sejarah dan membuat dongeng bernuansa pedesaan seperti Arne (1858) dan En Glad Gut (1860) yang melukiskan persamaan antara petani dan pahlawan-pahlawan usia lanjut dalam dekade sejaman lebih bersikap diam dan konsisten mencintai petualangan.

Selama tiga tahun (1860-1863), waktunya dihabiskan di luar Norwegia. Terutama Italia, ia sangat dipengaruhi karya Michelangelo dan seni rupa Yunani. Saking kangennya pada negeri Italia, ia pun melakukan tour kedua ( 1873 – 1875 ). Dari hasil pengamatannya yang brilian mengubah pola pemikirannya kearah realism yang sarat masalah social, misalnya naskah drama En Faillit ( Bangkrut ) dan Redaktoran ( Sang Redaktur ) pada 1875. Sedangkan Kongen ( The King ) pada 1877 mengisahkan proses sirnanya cita-cita Kristen dalam masyarakat sekuler saat itu, sehingga menimbulkan keprihatinan yang mendalam. Proses kehilangan membawa pada krisis keagamaan serta penolakan terhadap dogma-dogma gereja.

Pada tahun 1882 , Bjornstjerne Martinus Bjornson merantau ke negeri orang selama lima tahun. Di mana ia mrampungkan En Hanske (1883) sebuah drama yang menyorot kemunafikan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan masalah seks serta kebebasan yang selalu dijunjung kaun Bohemian.

Selain itu, ia juga menulis novel pendidikan seperti Det flagger I Byen Ong pa havnen (1884), The Herittage Of The Kurts dan Pa Guds Veie (1889) dengan tema toleransi beragama. Karya terakhirnya, Paul lange Og Tora Parsberg (1899) yang mengangkat ide toleransi berpolitik. Adapun kumpulan karya yang terdiri dari Sembilan jilid terbit tahun 1919.

Bjornstjerne Martinus Bjornson, menghembuskan nafasnya tahun 1910, setelah setahun merampungkan novel yang berjudul Nar den ny vin blomstrer (1909).Pemikiran-pemikrannya yang dituangkan dalam karya sastra diganjar dunia melalui penghargaan nobel sastra tahun 1903.

Theodore Christian Matthias Mommsen, Peraih Nobel Sastra Tahun 1902



Theodore CM Mommsen dilahirkan tahun 1817 di Carding, Schleswig. Sejarawan klasik terbesar abad ke -19 adalah putra seorang pendeta Protestan. Ia belajar hukum dan sejarah klasik di Kiel antara tahun 1838 sampai 1843. Setelah sekian waktu, ia tinggal di Perancis dan dan Italia meniti karir di bidang jurnalistik dan menjadi Professor hokum di University Of Leipzig. Sekitar tahun 1848 – 1849 ia melibatkan diri dalam revolusi dan terbukti pada tahun 1859 dipecat, namun sebelumnya justru ia pernah mengisi jabatan akademik bergengsi di Universitas Zurich dan Breaslau dan ditunjuk untuk mengajar sejarah kuno di Universitas Berlin pada tahun 1858.

TCM Mommsen juga pernah menjabat sekretaris di Prusian Academy of Arts and Sciences. Dan, tahun 1870 ia menjadi anggota parlemen Prusia yang aktif memperjuangkan Nasional Liberal dan menjadi Liberal sejati.

Tulisan Mommsen dalam daftar bibliografinya mencapai 900 buah, yang sebagian besar merombak studi pendahulunya tentang sejarah Roma. Sebagai editor umum dan Kepala Kontributor pada Corpus Inscriptionum Latinarum yang menyimpan prasasti Roma. Dan kontribusi pemikiran Mommsen diterbitkan Berlin Academy (1859).

Secara ilmu pengetahuan, karya Mommsen meletakkan dasar –dasar penelitian terhadap sejarah pemerintahan Roma baik administrasi, ekonomi dan keuangan secara sistematis. Buku Mommsen tentang awal keberangkatan Roma tentang hukum konstitusi dan kriminal dianggap klasik.

Memang Mommsen dilahirkan menjadi sarjana berotak brilian yang mempunyai pemahaman detail serta memiliki bakat berorganisasi yang luar biasa, di samping sebagai penulis yang hebat. Dari hasil keterlibatannya dalam revolusi tahun 1848-1849 sangat mempengaruhi pola pemikiran atas karya-karyanya. Misalnya, Romische Geschichte ( Sejarah Roma ), kekaguman terhadap energi dan kecakapan Julius Caesar dalam perhelatan sejarah Roma mendominasi terhadap pandangan terhadap sejarah di masa itu.

Sang pendobrak sejarah Roma, akhirnya meninggal pada tahun 1903. Perjuangannya, pemikirannya dalam merekontruksi sejarah Roma masa lalu yang menjadi semangat Eropa dianugerahi Nobel pada tahun 1902, setahun sebelum ajal menjemput.

Sully Prudhomme Peraih Nobel Sastra 1901




Sully Prudhomme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sully Prudhomme (lahir di Paris, Perancis, 16 Maret 1839 – meninggal di Châtenay-Malabry, Perancis, 16 September 1907 pada umur 68 tahun) ialah penyair Perancis, yang memenangkan Hadiah Nobel Sastra pertama pada 1901. Keputusan ini menimbulkan banyak debat - Sully-Prudhomme tak menerbitkan banyak puisi setelah 1888. Kini Sully-Prudhomme juga secara relatif sedikit dibaca baik di Prancis maupun di seluruh dunia. Karya-karya awalnya berlirik dan mengekspresikan pandangan melankolis pada dunia – di jilid terakhir ia menyukai ketenangan, teknik impersonal dari Parnassia, yang bereaksi terhadap emosi berlebihan dan subjektivitas Romantisisme.
René François Armand Sully-Prudhomme dilahirkan di Paris. Orang tuanya telah bertunangan selama 10 tahun, dan setelah memperoleh keamanan keuangan mereka menikah. Di usia 2 tahun Sully-Prudhomme kehilangan ayahnya, dan ia besar di rumah pamannya, di mana ibunya pindah. Ayahnya disebut 'Sully' dan penyair mengikutinya dengan nama belakangnya Prudhomme. Di sekolah ia tertarik dengan sastra klasik dan matematika, namun kerusakan mata yang serius membuatnya meninggalkan rencananya untuk belajar keahlian teknik. Ia juga berpikir serius memasuki Ordo Dominican. Setelah lulus dari Lycée Bonaparte ia menjadi koresponden pabrik di perusahaan industri Schneider-Creuzot. Sully-Prudhomme belajar hukum dan dari 1860 ia bekerja di kantor notaris. Terinspirasi oleh hubungan cinta yang tak menyenangkan – ia menjadi bujangan seumur hidup – ia belajar filsafat di malam hari dan menulis puisi. Penyair Leconte de Lisle mendorong usaha pertamanya, walau ia mencatat bahwa anak didiknya tak setia pada cita-cita Parnassia pada kemewahan klasik, namun lebih memilih menggambarkan perasaan dalamnya sendiri. Buku pertamanya, Stances et Poèmes, terbit saat berusia 26. Kumpulan sajak yang sedih diterima baik. Memuat puisi terbaiknya yang diketahui, 'Le vase brisé'. "Le vase où meurt cette vervaine / D'un coup d'éventail fut fêlé; / Le coup dut l'effleurer à peine, / Aucun bruit ne l'a révélé. " Pada 1886 Sully-Prudhomme ialah salah satu penyumbang antologi Le parnasse contemporain, dan kemudian membuat Les écurias d'augias (1866), Croquis italens (1866-68), dan Les solitudes (1869).

Sully-Prudhomme ingin memperbaiki standar klasik kemewahan dalam puisi. Penyair dan filsuf Romawi Lucretius (99-55 SM) mempengaruhi Sully-Prudhomme sedalamnya. Ia menerbitkan terjemahan sajak jilid pertama Lucretius On the Nature of Things (De Rerum Natura), bersama dengan kata pengantar yang menyertai. Lucretius menganjurkan dalam syair didaktis doktrin Epicurea dan menyatakan bahwa "orang harus memandu hidupnya dengan prinsip yang benar, kekayaan terbesar manusia ialah hidup dalam kesederhanaan dengan pikiran yang berpendapat; untuk sedikit tak pernah kurang." Kemudian Sully-Prudhomme tertarik dalam mengekspresikan pemikiran filosofisnya, kadang-kadang mungkin sulit dimengerti, melalui puisi. Terkadang ini menimbulkan penggunaan gambaran didaktis – ia menjelaskan lambangnya sebagai pengganti membiarkan pembaca menafsirkannya.

Saat Perang Perancis-Prusia mulai, Sully-Prudhomme mendaftarkan diri ke militer dan menulis Impressions de la guerre (1870). Di tahun yang sama ibu, paman, dan bibinya meninggal, dan ia terkena stroke, yang hampir melumpuhkan tubuhnya yang lemah, keadaan di mana ia harus berjuang untuk istirahat hidupnya. Selama dasawarsa itu muncul juga Les vaines tendressess (1875) dan La justice (1878). 'Le Zénith', diterbitkan dalam Revue des deux mondes, menghadapi kenaikan fatal 3 balonis. Pada 1881 ia dipilih ke Akademi Perancis.

Di antara karya-karya Sully-Prudhomme yang belakangan ialah epik 4.000 baris Le bonheur (1888), pencarian Faustian untuk cinta dan pengetahuan, dan percobaan ambisius untuk yang disebut syair filsafat ilmiah. Selama sisa-sisa kariernya ia memutuskan pada filsafat puisi. Dalam Le testamente poétique (1900) ia menunjukkan tujuannya untuk versi bebas dan karya simbolis. La vraie religion selon Pascal (1905), ialah tentang pandangan Kristen Blaise Pascal, dan dalam La psychologie de libre arbitre (1906) ia menyimpulkan bahwa konsep keinginan bebas secara objektif terhubung di alam dan kemudian harus benar. Selama tahun terakhir hidupnya Sully-Prudhomme sungguh-sungguh cacat oleh kelumpuhan. Ia meninggal di villanya di Châtenay-Malabry, dekat Paris, pada 7 September 1907. Uang dari Penghargaan Nobelnya disumbangkannya untuk asosiasi penulis Prancis untuk menolong penyair bercita-cita tinggi dengan penerbitan buku pertama mereka.
* Stances et poèmes, 1865.
* Les épreuves, 1866.
* Les solitudes: poésies, A. Lemerre (Paris), 1869.
* Les destins, 1872.
* La France, 1874.
* Les vaines tendresses, 1875.
* Le zénith (puisi), published in journal Revue des deux mondes, 1876.
* La justice (puisi), 1878.
* Poésie, 1865-88, A. Lemerre, 1883-88.
* Le prisme, poésies diverses, A. Lemerre (Paris), 1886.
* Le bonheur (puisi), 1888.
* Épaves, A. Lemerre, 1908.